PendahuluanSetiap membangun karakter anak yang baik dengan melihat

PendahuluanSetiap anak pasti mengalami proses “belajar” dan berkembang dalam perkembangan hidup mereka. Proses belajar mereka didapat tidak hanya dari sekolah, namun dari keluarga dan masyarakat memiliki kontribusi yang cukup banyak. Apalagi di rumah peran orang tualah yang sangat penting dalam membangun sebuah karakter anak yang baik karena orang tua sebagai guru pertama mereka di rumah. Namun, anehnya sebagian anak di antaranya justru terkadang mengalami proses belajar hidup yang sama sekali tidak menyenangkan bagi mereka di rumah bahkan terkadang mereka menganggap suasana di rumah terasa mengerikan sehingga lingkungan sebayanya atau teman sebaya menjadi tempat berpijak yang membebaskan anak untuk berkembang sesuai dengan yang mereka inginkan walaupun hal tersebut bertentangan atau menyimpang bagi mereka. Disadari atau pun tidak disadari pengalaman belajar anak yang tidak menyenangkan di rumah dapat berakibat buruk pada perkembangan karakter dan moral anak. Pastinya hal ini akan sangat menyedihkan bagi semua pihak yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak sebagai generasi penerus bangsa. Sekolah dan masyarakat turut pula membantu dalam  menanamkan pendidikan karakter pada anak. Usaha bersama dengan masing-masing memberikan kontribusi dalam pengembangan totalitas kepribadian atau karakter anak itu sendiri. Di dalam pendidikan karakter, sebagaimana yang disosialisasikan oleh Kemendikbud pada tahun 2010, 2011 mengenai pentingnya pendidikan karakter yang diberikan kepada anak-anak di sekolah dengan mengintegrasikan ke dalam berbagai disiplin ilmu yang berbeda. Oleh sebab itu sebagai guru atau pendidik, perlu memiliki kesadaran akan perannya dalam membangun karakter anak yang baik dengan melihat betapa banyak rintangan yang dapat merusak kepribadian anak.Menanamkan pendidikan karakter yang baik kepada anak-anak dapat dilakukan baik oleh orang tua maupun guru dengan menyediakan literatur atau bahan bacaan yang baik dan memiliki pesan moral kebajikan kepada anak sehingga anak akan memiliki kepribadian dan karakter yang baik pula dalam kehidupannya. Paper ini akan membahas mengenai makna dari pendidikan karakter sekarang ini, peran sekolah dalam pendidikan karakter serta mengintegrasikan pendidikan karakter dengan kurikulum melalui buku bacaan anak-anak.PembahasanPendidikan Karakter Kata Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti “to mark”. Istilah ini berfokus pada tindakan atau tingkah laku. Istilah karakter juga identik dengan istilah budi pekerti. Istilah budi pekerti ini didefinisikan oleh Nurchasanah dan Lestari (dalam Zakia) yang berarti perangai (akhlak) untuk dapat menimbang hal baik atau buruk serta benar atau salah terhadap sesuatu. Selain itu, Ditjen Kementerian Pendidikan Nasional menjelaskan bahwa karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas atau keunikan setiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat, sekolah, bangsa dan negara. Setiap orang yang berkarakter baik adalah orang yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan setiap akibat dari keputusan yang telah ia perbuat. Karakter juga sering diartikan dengan kata moral. Nilai moral atau moralitas merupakan nilai yang mengatur kehidupan manusia, baik sebagai pribadi yang bermatabat maupun dalam rangka mengatur hubungan keharmonisan di dalam bermasyarakat. Dalam menanamkan nilai moral, tentu saja sekolah berperan dalam menanamkan nilai-nilai karakter yang baik daripada yang buruk kepada anak-anak atau siswa mereka, tetapi nilai apa pun yang ditanamkan kepada anak-anak atau siswa akan menyebabkan kebiasaan intelektual dan moral kebiasaan yang akan menjadi perilaku anak tersebut.  Pendidikan karakter adalah dorongan kebajikan kepada anak. Definisi lain mengatakan pendidikan karakter merupakan bagian penting dalam dunia pendidikan seperti dijelaskan dalam UU Sisdiknas No 20 Pasal 3 Tahun 2003 bahwa, “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi siswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warganegara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Untuk mewujudkan tujuan tersebut seharusnya pendidikan karakter diberikan pada anak-anak sejak dini. Pendidikan karakter anak disesuaikan dengan perkembangan moral pada anak. Menurut Piaget (1965), perkembangan moral meliputi tiga tahap, yaitu (1) premoral, (2) moral realism, dan (3) moral relativism. Sementara Kolhberg (Power, Higgins, & Kohlberg, 1989) menyatakan bahwa perkembangan moral mencakup (1) preconventional, (2) conventional, dan (3) postconventional. Hakikat dari kedua teori tersebut sama, yaitu pada tahap awal anak belum mengenal aturan, moral, etika, dan susila. Kemudian, berkembang menjadi individu yang mengenal aturan, moral, etika, dan susila dan bertindak sesuai aturan tersebut. Pada akhirnya, moral, aturan, etika dan susila ada dalam diri setiap anak, di mana perilaku ditentukan oleh pertimbangan moral dalam dirinya bukan oleh aturan atau oleh keberadaan orang lain; meskipun tidak ada orang lain, ia akan malu untuk melakukan hal-hal yang tidak etis atau tidak seharusnya, tindakan asusila dan tindakan idak bermoral.Peran Sekolah dalam Menanamkan Pendidikan Karakter AnakPeran merupakan serangkaian perilaku yang diharapkan pada seseorang sesuai dengan posisi sosial yang diberikan, baik secara formal mainpun informal. Peran didasarkan pada ketentuan dan harapan yang menjelaskan hal-hal yang seseorang harus lakukan atau perbuat dalam situasi tertentu sehingga dapat memenuhi harapan mereka sendiri atau harapan orang lain yang menyangkut peran terssebut.Menanamkan karakter pada anak pertama kali mulai dibentuk dari pendidikan dalam keluarga. Sementara itu dalam perkembangan usia anak, sekolah dan masyarakat mulai terlibat dalam menanamkan dan mengembangkan kepribadian dan karakter anak. Pendidikan karakter memiliki tujuan untuk mengurangi perilaku-perilaku destruktif pada anak dan remaja dan orang dewasa bahkan di kalangan pelajar dan mahasiswa. Perilaku destruktif ini merupakan perilaku yang dapat merusaka kepribadian dan karakter anak. Perilaku ini terjadi karena kurangnya keteladanan baik orang tua atau guru secara langsung maupun tidak langsung. Penanaman nilai kebaikan yaitu tentang nilai-nilai kejujuran, kebajikan yang berakar pada agama, budaya atau kesepakatan umum seperti budi pekerti dan keteladanan sangat penting dilakukan secara terus menerus sejak anak-anak.Pendidkan karakter  anak di sekolah dinyatakan sukses apabila, seorang pendidik atau guru dalam proses pengajarannya berhasil mempengaruhi secara pikiran sehingga dapat berpikir kreatif dan inovatif dalam belajar. Selain itu seorang pendidik juga harus mempengaruhi dan memelihara secara emosional (artistik emosional anak) dengan kepedulian, kebersamaan, kepatuhan, kerja sama, saling menghargai, saling menghormati, jujur, tanggung jawab, dan sebagainya. Apalagi sekolah berperan penting karena anak-anak lebih banyak waktu bersama guru dan teman sebayanya di sekolah. Menciptakan situasi belajar yang demokratis sangat membantu dalam mengembangkan anak yang bertanggung jawab dan bermoral. Sekolah sebagai lembaga yang melakukan pelayanan pada masyarakat dengan menekankaan secara sosial, moral dan akademis bertanggung jawab dengan mengintegrasikan pendidikan karakter pada semua disiplin materi pembelajaran atau disetiap aspek dari kurikulum. Sebagaimana yang ada pada Pusat Kurikulum (tahun 2010) menekankan 18 nilai yakni  religius,  jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, tanggung jawab, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi dan bersahabat/komunikatif.Mengintegrasikan Pendidikan Karakter Anak dengan KurikulumSalah satu cara termudah untuk mengintegrasikan pendidikan karakter dengan kurikulum adalah melalui literatur yang kita gunakan bersama anak didik untuk kegiatan belajar. Kilpatrick, Wolfe, dan Wolfe (1994) mengungkapkan alasan pentingnya menggunakan studi literatur sebagai sarana utama dalam pendidikan karakter, termasuk fakta bahwa cerita memberikan gambaran tentang peran baik yang harus diperhatikan dan juga aturan-aturan yang harus dijalani. Guroian (1998) sepakat bahwa penggunaan cerita jauh lebih efektif daripada hanya sekadar memberikan pengajaran karakter yang digunakan untuk membangkitkan apa yang selama ini disebut sebagai imajinasi moral. Ia beserta Bettelheim (1989) secara khusus menganjurkan penggunaan dongeng dalam pendidikan karakter.

BACK TO TOP
x

Hi!
I'm Nicholas!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out