Ketika yang diciptakan untuk menganalisa masalah seiring kebutuhan

Ketika dunia telah berada pada fase perkembangan
teknologi berbasis elektronik, abad 21 merupakan pintu terbukanya peradaban AI (Artificial
Intelligence). AI, suatu inovasi yang diciptakan untuk menganalisa masalah seiring
kebutuhan manusia di dunia. Dimulai mesin pencari berbasis internet dari Google
LLC, hingga kemudahan dalam pembayaran online dengan Paypal. Ketika saat ini
diaplikasikan menjadi mobil berkonsep berkendara tanpa awak (selfdriving car). Sebuah mimpi tahun
1960 oleh Willian Bertelsen yang tercipta secara perlahan hingga Google menjadi
perusahaan pertama yang sukses membuat prototype
mobil tanpa awak. Namun, teknologi tersebut baru dipandang oleh negara-negara
Eropa dan Amerika saat tahun pertama peluncurannya. Mengapa negara-negara asia
belum begitu tertarik dengan inovasi tersebut disaat waktu peluncuran prototype pertamanya?

Pada dasarnya, beberapa mobil tanpa awak yang sudah
dikembangkan belum sepenuhnya menerapkan mengemudi otomatis total. TESLA
Company menyatakan bahwa kondisi jalanan di seluruh dunia masih menempati angka
41.2% agar dapat dijadikan basis sensor mobil tanpa awak, masih banyak anomali
penyebab mal-function pada mobil.
Selama tahun 1960, Willian Bertelsen bekerja sama dengan Citroen DS menciptakan
mode Cruise Control dengan prototype RRL DS 19, Citroen. Sayangnya
diawal, uji coba Cruise Control gagal
yang menyebakan mobil tetap melaju konstan meski ada halangan di depannya, sehingga
mobil tanpa awak hilang kabar pengembangannya selama 32 tahun, dan kembali
dikembangkan oleh militer Amerika di tahun 1990-an.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Opini yang dinyatakan masyarakat sangat menentang
untuk dikembangkannya teknologi ini. Begitu pula saat peluncuran pertama yang
dilakukan Google LLC. meski terbilang mengagumkan namun, justru banyak
tanggapan masyarakat akan munculnya teknologi tersebut. Apa ketakutan dan
ekspetasi yang mereka harapkan? Berdasarkan survey yang dilakukan oleh lembaga
jurnalistik, fticommunications.com hampir keseluruhan orang menyatakan takut
terjadi mal-function walau kendatinya
konsep tersebut sangat bagus untuk membuat penumpangnya menjadi nyaman. Sistem
sensor yang digunakan di tahun 2009 masih terbilang sangat minim dan masih baru
sehingga belum beroperasi maksimal dan masih skala area percobaan. Meskipun negara
Amerika dan eropa telah memenuhi standar Autonomous
Driving untuk kondisi jalanannya, namun tidak dengan Asia. Data statistik
oleh DeepBlue menunjukan bahwa Asia menempati kondisi jalanan berkategori sangat
padat. Dengan persentase motor 55.3% dan mobil 38.7%, serta 6% ditempati oleh
jenis kendaraan lainnya.

Beberapa faktor penyebab Asia belum dikategorikan
negara otomatis, karena sebagian besar kondisi perekonomian, tata ruang dan
gaya hidup warga asia yang sulit diprediksi. Dikuti cara berkendara masyarakatnya,
khususnya bagian tenggara menempati resiko berkendara tertinggi, berdasarkan
survei NewYorkTimes.com. Namun, tidak dengan beberapa negara maju seperti Uni Emirates Arab, Korea, Jepang dan
Singapur. Tata ruang serta cara hidup masyarakatnya sudah sangat teratur. Diluar
dari negara-negara maju tersebut seperti India, Indonesia, Vietnam, dll. Norma sosialisasinya
masih sangat rumit terhadap etika berkendara. Artificial Intelligence sangat bergantung pada kode yang berjalan
dalam memprediksi keadaan sekitar dan perlu servei bertahun-tahun. Jika sistem
tersebut diterapkan pada kondisi jalan di Asia, akan banyak terjadi insiden
atau bahkan sistem AI tidak akan
berfungsi karena terlalu banyak algoritma permisalan yang berjalan. Sehingga,
hampir keseluruhan penduduk Asia tidak peduli akan berkembangnya mobil tanpa
awak. Anggapan kontroversi, dan pertanggung jawaban pemilik atas insiden yang
dilakukan mobilnya. Walaupun dalam mode otomatis, masyarakat masih menilai
penumpang tetap bersalah.

Hingga pada kesimpulannya, perusahaan mobil banyak
berinvestasi dalam mobil tanpa awak dengan tujuan agar memberikan kenyamanan
dan keselamatan yang lebih tanpa adanya human
error. “From the point at
which a car is definitely safer than a person, there’s at least another two or
three years after that before regulators allow it to be the case.”,Elon Musk, CEO Tesla, Inc. Menurut Elon Musk mobil lebih aman jika sistemnya
tersturktur dan terkoneksi. Seperti yang dilakukan Tesla, akan lebih baik jika
mobil di program agar tetap mengandalkan pengendara sebagai pemegang kemudi
utama atau secara singkat disebut semi-autonomous driving dengan tetapan
tersebut, perkembangan di Asia dapat dilakukan secara perlahan dan pasti. 

BACK TO TOP
x

Hi!
I'm Nicholas!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out